#14
Kita terpisah jauh.
Kita terpisah oleh jarak.
Kita terpisah oleh waktu.
Kita terpisah sekian lama.
Tapi aku selalu memikirkanmu.
Walau aku tak tahu.
Apakah kau juga memikirkanku juga.
Atau memikirkan yang lainnya.
#15
Baru ku sadari.
Kau sedang tertawa di sampingku.
Kau sedang tertawa, karena aku.
Aku akan selalu memberimu sebuah senyuman.
Dan sebuah hati yang takkan ku berikan kepada orang yang tak akan bisa tertawa di sampingku.
#16
Aku di sini sendiri.
Menunggu kedatanganmu.
Dalam sepi ini, aku berharap.
Berharap agar suatu saat nanti, aku akan bahagia.
Bahagia bersamamu.
Bukan bersama bayang bayangmu.
#17
Entah berapa lama aku menunggu bahagia itu datang.
Entah seberapa lama aku menantinya.
Entah aku masih bernafas, ataupun tidak.
Tetapi, aku tetap menunggumu.
Tetes air mata ini mengiringi penantianku.
Hingga kau tak kunjung datang.
#18
Ku lepas semua genggamanmu.
Aku yakin, kita akan bertemu. Nanti.
Aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya.
Aku menangis untuk kepergianmu.
Tapi aku berjanji, suatu saat pasti kita akan bertemu.
Bertemu dan menjadi satu. Selamanya.
#19
Aku senang. Bukan karena diriku.
Aku senang. Bukan karena prestasiku.
Aku senang. Bukan karena kebahagiaanku.
Aku senang. Karena dirimu.
Aku senang. Karena prestasimu.
Aku senang. Karena kebahagiaanmu.
#20
Aku ingin selalu melihat senyumanmu.
Aku ingin melihat tawamu.
Aku ingin mendengar suara penuh canda.
Tapi aku tak tahu.
Akankah semua ini akan abadi?
#21
Kau tersenyum, untuk prestasiku.
Kau tersenyum, untuk keberhasilanmu.
Kau tersenyum, untuk kesuksesanku.
Tapi aku tak tahu.
Di balik ini semua. Aku menderita.
Aku tidak selalu tersenyum di semua prestasiku.
Di semua keberhasilanku.
Di semua kesuksanku.
Selama ini, aku hanya bersikap seakan aku tidak mempunyai beban.
Tapi sebenarnya, aku selalu mempunyai beban.
Bahkan beban yang sangat berat. Yang takkan kau ketahui.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment